Jumat, 15 April 2016

Minggu, 03 April 2016

http://megachannelz.com/kerajaan-kerajaan-melayu-yang-hilang-kini-sudah-ditemui/

Minggu, 28 Februari 2016

ciri2 syiah

Menurut Ali Muhammad Ash Shalabi, taqiyah dalam Syiah ada empat unsur pokok ajaran; Pertama, Menampilkan hal yang berbeda dari apa yang ada dalam hatinya. Kedua, taqiyah digunakan dalam berinteraksi dengan lawan-lawan Syiah. Ketiga, taqiyah berhubungan dengan perkara agama atau keyakinan yang dianut lawan-lawan. Keempat, digunakan di saat berada dalam kondisi mencemaskan

Menurut Syaikh Mamduh Farhan Al-Buhairi di Majalah Islam Internasional Qiblati, ciri-ciri pengikut Syi’ah sangat mudah dikenali, kita dapat memperhatikan sejumlah cirri-ciri berikut:

Mengenakan songkok hitam dengan bentuk tertentu. Tidak seperti songkok yang dikenal umumnya masyarakat Indonesia, songkok mereka seperti songkok orang Arab hanya saja warnanya hitam.Tidak shalat jum’at. Meskipun shalat jum’at bersama jama’ah, tetapi dia langsung berdiri setelah imam mengucapkan salam. Orang-orang akan mengira dia mengerjakan shalat sunnah, padahal dia menyempurnakan shalat Zhuhur empat raka’at, karena pengikut Syi’ah tidak meyakini keabsahan shalat jum’at kecuali bersama Imam yang ma’shum atau wakilnya.Pengikut Syi’ah juga tidak akan mengakhiri shalatnya dengan mengucapkan salam yang dikenal kaum Muslimin, tetapi dengan memukul kedua pahanya beberapa kali.Pengikut Syi’ah jarang shalat jama’ah karena mereka tidak mengakui shalat lima waktu, tapi yang mereka yakini hanya tiga waktu saja.Mayoritas pengikut Syi’ah selalu membawa At-Turbah Al-Husainiyah yaitu batu/tanah (dari Karbala – redaksi) yang digunakan menempatkan kening ketika sujud bila mereka shalat tidak didekat orang lain.Jika Anda perhatikan caranya berwudhu maka Anda akan dapati bahwa wudhunya sangat aneh, tidak seperti yang dikenal kaum Muslimin.Anda tidak akan mendapatkan penganut Syi’ah hadir dalam kajian dan ceramah Ahlus Sunnah.Anda juga akan melihat penganut Syi’ah banyak-banyak mengingat Ahlul Bait; Ali, Fathimah, Hasan dan Husain radhiyallahu anhum.Mereka juga tidak akan menunjukkan penghormatan kepada Abu Bakar, Umar, Utsman, mayoritas sahabat dan Ummahatul Mukminin radhiyallahu anhum.Pada bulan Ramadhan penganut Syi’ah tidak langsung berbuka puasa setelah Adzan maghrib; dalam hal ini Syi’ah berkeyakinan seperti Yahudi yaitu berbuka puasa jika bintang-bintang sudah nampak di langit, dengan kata lain mereka berbuka bila benar-benar sudah masuk waktu malam. (mereka juga tidak shalat tarwih bersama kaum Muslimin, karena menganggapnya sebagai bid’ah)Mereka berusaha sekuat tenaga untuk menanam dan menimbulkan fitnah antara jamaah salaf dengan jamaah lain, sementara itu mereka mengklaim tidak ada perselisihan antara mereka dengan jamaah lain selain salaf. Ini tentu tidak benar.Anda tidak akan mendapati seorang penganut Syi’ah memegang dan membaca Al-Qur’an kecuali jarang sekali, itu pun sebagai bentuk taqiyyah (kamuflase), karena Al-Qur’an yang benar menurut mereka yaitu al-Qur’an yang berada di tangan al-Mahdi yang ditunggu kedatangannya.Orang Syi’ah tidak berpuasa pada hari Asyura, dia hanya menampilkan kesedihan di hari tersebut.Mereka juga berusaha keras mempengaruhi kaum wanita khususnya para mahasiswi di perguruan tinggi atau di perkampungan sebagai langkah awal untuk memenuhi keinginannya melakukan mut’ah dengan para wanita tersebut bila nantinya mereka menerima agama Syi’ah. Oleh sebab itu Anda akan dapati;Orang-orang Syi’ah getol mendakwahi orang-orang tua yang memiliki anak putri, dengan harapan anak putrinya juga ikut menganut Syi’ah sehingga dengan leluasa dia bisa melakukan zina mut’ah dengan wanita tersebut baik dengan sepengetahuan ayahnya ataupun tidak. Pada hakikatnya ketika ada seorang yang ayah yang menerima agama Syi’ah, maka para pengikut Syi’ah yang lain otomatis telah mendapatkan anak gadisnya untuk dimut’ah. Tentunya setelah mereka berhasil meyakinkan bolehnya mut’ah. Semua kemudahan, kelebihan, dan kesenangan terhadap syahwat ini ada dalam diri para pemuda, sehingga dengan mudah para pengikut Syi’ah menjerat mereka bergabung dengan agama Syi’ah.

Ciri-ciri mereka sangat banyak. Selain yang kami sebutkan di atas masih banyak ciri-ciri lainnya, sehingga tidak mungkin bagi kita untuk menjelaskan semuanya di sini. Namun cara yang paling praktis ialah dengan memperhatikan raut wajah. Wajah mereka merah padam jika Anda mencela Khomeini dan Sistani, tapi bila Anda menghujat Abu Bakar, Umar, Utsman, Aisyah dan Hafshah, atau sahabat-sahabat lainnya radhiyallahu anhum tidak ada sedikitpun tanda-tanda kegundahan di wajahnya.

Akhirnya, dengan hati yang terang Ahlus Sunnah dapat mengenali pengikut Syi’ah dari wajah hitam mereka karena tidak memiliki keberkahan, jika Anda perhatikan wajah mereka maka Anda akan membuktikan kebenaran penilaian ini, dan inilah hukuman bagi siapa saja yang mencela dan menyepelekan para sahabat Nabi shallallahu alaihi wa sallam dan para ibunda kaum Musliminradhiyallahu anhunn yang dijanjikan surga oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala. Kita memohon hidayah kepada Allah untuk kita dan mereka semua

arahman

model masijdil Haram

Kerajaan Saudi dan Amerikaisasi Kota Suci Umat Islam




MUSIBAH demi musibah dialami jemaah haji tahun ini, rata-rata disebabkan mismanajemen; dari mulai crane jatuh, jadwal jamarat yang dilanggar yang kemudian muncul tragedi Mina, dan sebagainya. Korban sudah ratusan jiwa, tetapi ini bukan perkara enak tidaknya menjadi syuhada meninggal dalam keadaan berhaji, melainkan ada sebuah pertanyaan yang secara tiba-tiba saja muncul, apakah dari semua tragedi ini Tuhan ingin menunjukan bahwa ada sesuatu yang sebetulnya tidak beres dalam persoalan haji, soal Tanah Suci Mekkah yang kini dikuasai Kerajaan Arab Saudi?

Selama ini, memang banyak kritik dari dunia Islam mengenai Kerajaan Arab Saudi, baik kritik politik maupun keagamaan. Dari segi politik, karena Kerajaan Arab Saudi selama ini sangat berhubungan “mesra” dengan pemerintah Washington, Amerika Serikat (AS). Dalam bidang keagamaan, karena kerajaan ini memegang erat Wahabisme yang menjadi paham resmi negara, tentu sangat berseberangan dari paham-paham keagamaan mainstream di dunia Islam yang umumnya adalah ahli sunnah waljamaah (Aswaja).

Wahabisme memang baru lahir pada abad ke 17 M, tetapi Nabi Muhammad saw mengetahui perihal akan kemunculannya, dalam salah satu hadis, misalnya berbunyi: “Kelak akan ada kaum yang hafal Alquran, namun saat membaca tak sampai dikerongkongannya, hafal hadis namun tak mengikuti sunahnya, mereka keluar dari Islam laksana anak panah yang terlepas dari busurnya. Seandainya aku hidup pada masa itu, aku akan memeranginya, kaum itu akan datang dari arah Nejd…”

Ayah dan semua saudara Muhammad bin Abdul Wahhab (pendiri Wahabi) adalah dari keluarga Aswaja, yakni penganut kukuh Mazhab Imam Ibn Hambal. Bahkan ayahnya adalah seorang ulama besar Mazhab Hambali. Suatu ketika ayah dan saudaranya sendiri menasihati Muhammad bin Abdul Wahhab supaya kembali pada ajaran Aswaja.

Ka’bah dikelilingi Hotel-hotel Mewah Amerika
Karena perilaku ajarannya sudah jauh menyimpang, yakni sering mengafirkan ulama-ulama Islam terdahulu, sementara jika kata “kafir” sudah terlontar dari mulut, ada dua kemungkinan siapa yang sebenarnya kafir, si pelontarnya atau orang yang dikafirkan itu. Sementara ulama-ulama Islam di masa lalu jelas tidak kafir, sebaliknya adalah orang-orang suci dan mulia.

Jika ada pertanyaan perlukah monarki di Tanah Suci? Yang jelas adanya eksistensi negara dan pemimpin mutlak harus ada. Semestinya Arab Saudi menjadi negara dengan sistem politik modern jika konsisten melanjutkan piagam madinahnya Nabi Muhammad. Dan semestinya paham keagamaan negaranya adalah Aswaja karena Nabi sendiri berpesan dalam sebuah hadisnya: “Kuunu ma’al jamaah (ay ahl sunnah wa al Jamaah) wa in sadda sadda finnar” (Kita harus berpegang dalam Aswaja, jika sendiri-sendiri akan masuk neraka).

Meski demikian, sejarah padang pasir dari dulu dikuasai suku-suku besar, seperti di zaman Nabi sendiri yang berkuasa adalah Quraish (suku terbesar dan berkuasa kala itu). Sejak peristiwa fath makkah, teori siapa suku terkuat dialah penguasa terputus, hingga muncul the lion of nejd Abdul Aziz dari Nejd yang kemudian mendirikan Kerajaan Saudi pada dekade 1930-an.

Abdul Aziz menguasai Mekah-Madinah tak lama setelah kekuasaan Turki Usmani ambruk, saat itu menjadi jantungnya kekhalifahan Islam terakhir karena kalah dalam Perang Dunia I. Abdul Aziz kemudian merangkul AS dan sekutunya hingga saat ini untuk mengokohkan kekuasaannya.

Sebagai konsekuensi dari paham Wahabisme ini, misalnya, pemerintah Arab Saudi sangat membatasi jemaah haji yang ingin mengunjungi tempat-tempat suci (dalam bahasa Indonesia: keramat), karena hal itu dilarang dalam paham Wahabisme. Lagi pula telah banyak situs-situs bersejarah Islam awal telah diporak-porandakan pemerintah Saudi.

Sebab itu jangan mengharap untuk menemukan tanda-tanda pegawai dari pemerintah yang bertugas menunjukkan jalan menuju tempat keramat seperti rumah baginda Nabi Muhammad dilahirkan, misalnya, ketika umat Islam beribadah haji. Jika jemaah haji ingin menemukannya, ia harus bertanya-tanya atas inisiatif sendiri.

Atau misalnya ingin mengunjungi Gua Hira, tempat bersejarah di mana dahulu Nabi Muhammad terluput dari pembunuhan karena dikejar-kejar orang kafir Quraish. Maka jemaah haji hanya mengikuti jemaah lain yang sudah tahu jalan ke Gua Hira. Atau seperti pengakuan Farid Esack dalam karyanya On Being a Moslem (2009), kita cukup mengikuti kaleng-kaleng Pepsi yang berserakan di sepanjang jalan terjal hingga sampai ke mulut gua.

Pengalaman haji seseorang sering menemukan pertanda bahwa “bisnis kapitalisme” sebenarnya telah lama berkembang di Tanah Suci. Seperti juga penelitian antropolog Martin van Bruinessen yang menyebut bahwa Kota Mekah bak Manhattan di pusat Kota New York. Yang megah dengan singgasana hotel, mal, dan apartemen mengelilingi Masjidil Haram. Bisnis kapitalisme sudah berjalan berkelindan dengan penguasa pengelola tempat-tempat suci.

Contoh lain simbol kapitalisme di Tanah Suci ialah bangunan bernama Abraj al Bait; ada 20 lantai pusat perbelanjaan dan sebuah hotel dengan 800 kamar. Garasinya bisa menampung 1.000 mobil. Tapi para tamu dan penghuni juga bisa datang dengan helikopter, karena ini memang tempat bagi mereka yang mampu menyewa, atau memiliki kendaraan terbang.

Ongkos semalam di salah satu kamar di Makkah Clock Royal Tower bisa mencapai Rp7 juta. Dari ruang yang disejukkan AC itu orang-orang dengan uang berlimpah bisa memandang ke bawah, mengamati ribuan muslimin yang bertawaf mengelilingi Kakbah.

Abraj al Bait yang begitu megah dan gemerlap, dengan 21 ribu lampunya yang memancar sampai sejauh 30 km dan membuat rembulan di langit pun mungkin tersisih. Betapa berubahnya Mekah. Bahkan menurut Irfan al-Alawi, seorang direktur Islamic Heritage Research Foundation di London, menyebutnya “It is the end of Mekkah“.

Transformasi Mekah dibangun oleh kekuatan kapitalisme membuat sebuah kota seperti Manhattan, sebuah kota dengan belantara bangunan menjulang. Wahabisme adalah kekuatan di belakang dihancurkannya sisa-sisa masa lalu. Selama 50 tahun terakhir, sekitar 300 bangunan sejarah telah diruntuhkan.

Sejarah Arab Saudi mencatat dihapusnya peninggalan sejarah itu secara konsisten. April 1925, di Madinah, kubah di makam Al-Baqi’ diruntuhkan. Beberapa bagian qasidah karya al-Busiri (1211—1294) yang diukir di makam Nabi sebagai hymne pujaan ditutupi cat oleh penguasa agar tak bisa dibaca. Di Mekah, makam Khadijjah, istri Nabi, dihancurkan. Kemudian tempat di mana rumahnya dulu berdiri dijadikan kakus umum. Na’udzubillahimin dzalik.

Sumber: Salafy News

://bantushare.com/kerajaan-saudi-dan-amerik-aisasi-kota-suci-umat-islam/

wahabi

https://youtu.be/ZTuLfsX8e_I

Jumat, 26 Februari 2016

kopian semata

 Beranda Daftar Isi Versi Mobile ▼

Friday, 3 July 2015

Inilah 5 Alasan Mereka Tidak Mau Disebut Wahabi

Muslimedianews.com ~ Terkait dengan istilah Wahhabi, setidaknya pengikut Wahhabi terbagi menjadi dua bagian. Pertama, orang-orang atau kelompok yang bangga disebut Wahhabi. Sebab menurut mereka, sebutan Wahhabi adalah sebuatan untuk kelompok yang mendakwahkan tauhid yang lurus yag dinisbatkan kepada Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab al-Nadji.

Baca: Ternyata Ulama Wahhabi Bangga Disebut sebagai Wahhabi 

Kedua, kelompok atau pengikut Wahhabi yang tidak mau disebut Wahhabi. Mereka malu dan takut disebut sebagai Wahhabi. Mereka memberikan beberapa alasan yang tumpang tindih terkait dengan penolakan mereka disebut sebagai Wahhabi, bahkan sambil menyebarkan kebohongan. 

Ketakutan dan rasa malu mereka sehingga tidak mau disebut sebagai wahhabi karena pada dasarnya mereka menyadari sejarah kelam dan kekejaman Wahhabi yang tak akan pernah terlupakan dalam sejarah Islam. Sehingga mereka menciptakan beberapa alasan untuk menolak istilah Wahhabi tersebut.

Setidaknya ada 5 alasan (dalih) mereka yang berusaha menolak istilah Wahhabi:

(1). Tidak mau (malu/takut) disebut Wahhabi karena menurut mereka, nisbat Wahhabi bukan kepada Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab al-Nadji, tetapi kepada Abdul Wahhab bin Abdirrahman bin Rustum. 

Dalih ini baru muncul setelah seorang Wahhabi bernama Muhammad bin Sa’ad Asy-Syuwai’irmengalami salah paham terkait dengan istilahWahhabiyyah (الوهَّابيَّة) dan Wahbiyyah (الوَهْبِيَّة) dalam tulisannya yang mencantumkan fatwa Al-Lakhmi. Kesalah-pahaman itu ternyata diadobsi oleh kalangan Wahhabi, khususnya Wahhabi di Indonesia, seperti Abu Yahya Badrussalam Lc dan lain-lain. 

Baca: Memahami Antara Wahhabi, Wahbi, Ibnu Rustum dan Ulama Wahhabi 

Baca:  Abdul Wahhab bin Rustum Pengikut Wahbiyyah bukan Wahhabiyyah

Baca: Kepalsuan Gambar Perbedaan Dua Wahabi di Sosmed 
Baca: Dongeng Populer Wahhabiyyah Rustumiyyah

(2). Tidak mau (takut/malu) disebut Wahhabi karena menurut mereka, nisbat Wahhabi adalah nisbat yang salah. Mereka mengatakan bahwa bila pendirinya Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab maka seharusnya namanya adalah Muhammadi atau Muhammadiyah bukan Wahhabi atau Wahhabiyyah. 

Perkataan mereka tersebut datang dari kalangan yang masih awam dalam memahami persoalan nisbat. Sebab nisbat tidak harus dengan nama pendirinya, tetapi boleh dengan nama ayahnya, kakeknya dan seterusnya, bahkan dengan mudloh ilah-nya.

Misalnya, istilah Syafi'iyah tidak dinisbatkan kepada pengasasnya. Nama pengasasnya adalahMuhammad bin Idris bin Al-'Abbas bin 'Utsman bin Syaafi'. Syafi' adalah nama dari kakeknya yang sudah terbait jauh. Begitu banyak penisbatan yang tidak menggunakan nama pendiri atau pengasasnya. Dan nisbat juga tidak mesti dengan nama depannya, boleh dengan mudloh ilaihnya, seperti Abdul Qais, nisbahnya menjadi Qaisy. 

(3). Tidak mau (takut/malu) disebut Wahhabi karena menurut mereka, istilah Wahhabi berasal orientalis barat atau orang kafir yang benci terhadap dakwah mereka. 

Dalih tersebut merupakan kebohongan daripada ustadz-ustadz Wahhabi. Sebab, penamaan Wahhabi yang dinisbatkan kepada Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab diberikan pertama kali oleh kakak kandung pendiri Wahhabi sendiri, yaitu Syaikh Sulaiman bin Abdul Wahhab al-Najdi al-Hanbali dalam kitabnya al-Shawaiq al-Ilahiyyah fi raddi alal Wahhabiyah, kemudian istilah itu diikuti oleh para ulama. 

Baca: Kebohongan Ustadz Wahabi Muhammad Arifin Badri tentang Nisbat Wahhabi 

(4). Tidak mau (takut/malu) disebut Wahhabi karena menurut mereka, istilah Wahhabi ciptaan Syi'ah untuk menjelekkan dakwah mereka. Kata mereka, Syi'ah melabeli semua yang anti Syi'ah sebagai Wahhabi.

Dalih tersebut juga merupakan kebohongan. Kebohongan ini baru-baru saja muncul atau diciptakan oleh Wahhabi ditengah gencarnya isu mengenai Syi'ah. Kebohongan ini diantaranya disebarkan oleh ustadz Wahhabi Khalid Basalamah, orang PKS Jonru melalui fanpagenya, dan yang terbaru disebarkan oleh Wahhabi Sony Abu Hussein Ath-Thuwailibi, Abu Jibril / komplotan situs radikal Arrahmah .com , serta orang-orang awam Wahhabi di jejaring sosial. 

Sebutan Wahhabi berasal dari kalangan Ahlussunnah wal Jama'ah (Sunni/Aswaja) yang pertama kali diberikan oleh Syaikh Sulaiman bin Abdul Wahhab (kakak kandung Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab) sebagaimana penjelasan sebelumnya, kemudian istilah itu digunakan oleh para ulama Ahlussunnah lainnya. 

Bila ada Syi'ah menggunakan istilah Wahhabi kepada orang Wahhabi maka berarti ada kemajuan, sebab mereka berarti bisa memilah mana yang Ahlussunnah wal Jama'ah (asli) dan mana yang Wahhabi (Ahlussunnah KW). Tetapi sayangnya, Syi'ah kadang tidak bisa membedakan hal tersebut. Yang mereka tahu, Sunni ya Sunni. Seperti halnya Barat, yang mereka tahu hanyalah Islam ya Islam. Misal, pengeboman yang dilakukan Wahhabi, orang-orang Barat mengatakan itu dilakukan oleh muslim. Sebagian mereka kurang mengerti bahwa itu dilaukan oleh kalangan muslim yang Wahhabi. Maka Islam mendapat citra yang buruk di mata dunia karena kelakukan Wahhabi.

Kekurang-mampuan sebagian Syi'ah membedakan hal tersebut, menjadi mereka menyangka bahwa setiap yang anti Syi'ah dikira Wahhabi. Padahal Aswaja (Ahlussunnah wal Jama'ah) juga tidak sepakat dengan paham Syi'ah. 

Baca: Julukan Wahabi hanya Dipakai Syi’ah, Benarkah? Tanggapan Untuk Khalid Basalamah 
Baca: MENJAWAB PROPAGANDA Benarkah Menggelari Wahhabi berarti Membantu Syi'ah ? 
Baca: MENJAWAB PROPAGANDA: Benarkah Sebutan Wahhabi adalah Ciptaan Syi'ah ? 
Baca: Jonru dan Hoax tentang Sebutan Wahhabi

(5). Tidak mau disebut Wahhabi karena menurut mereka, sebutan Wahhabi dinisbatkan kepada nama Allah, Al-Wahhab. Ini adalah dalih dari kalangan Wahhabi yang sudah tidak memiliki alasan lagi. Ini pernah dikemukan oleh Muhammad bin Jamil Zainu dalam bukunya Quthuf Min asy Syama’il al Muhammadiyyah.

Mungkin saja, berikutnya mereka akan membuat dalih baru untuk menolak penamaan Wahhabi dengan alasan istilah Wahhabi berasal dari kalangan Liberal / JIL dan sebagainya. Alasan ini belum ada dilontarkan oleh kalangan Wahhabi sebab mereka tahu bahwa istilah Wahhabi tidak berasal dari kalangan Liberal. 

Hal seperti ini penting diketahui oleh umat Islam agar tidak terjebak dalam propaganda Wahhabi. 


Penulis : Ibnu Manshur


penjelasan tentang syiah dan wahabi

SYI’AH VERSUS WAHABI

Oleh: Habib Muhammad Rizieq bin Husein bin Muhammad Shihab Lc.

(Imam Besar Front Pembela Islam/ FPI)

Assalaamu ‘Alaikum Wa Rohmatullaahi Wa Barokaatuh… Bismillaah Wal Hamdulillaah… Wash-sholaatu Was-salaamu ‘Alaa Rasuulillaah… Wa ‘Alaa Aalihi Wa Shohbihi Wa Man Waalaah …

Imam Habib Abdullah bin Alwi Al-Haddad rhm (wafat: 1.132 H) dalam kitab “Tatsbiitul Fu-aad” membahas tuntas tentang sikap Kaum Roofidhoh (-Jamaknya : Rowaafidh-) yang selalu melecehkan Shahabat Nabi SAW dengan “dalih” membela Ahli Bait Nabi SAW, dan Kaum Naashibah (-Jamaknya : Nawaashib-) yang sering melecehkan Ahli Bait Nabi SAW dengan “dalih” membela Shahabat Nabi SAW.

Dan dalam juz 2 halaman 227 kitab tersebut, Imam Al-Haddad rhm menyatakan tentang Roofidhoh dan Naashibah: ” بعرة مقسومة نصفين ” “Kotoran Unta yang dibelah dua.”

“Roofidhoh” dan “Nawaashib” adalah musuh bebuyutan, sepanjang sejarah tidak pernah akur, bagaikan air dan minyak, tidak pernah bisa bersatu. Satu sama lainnya saling mengkafirkan, bahkan hingga kini kedua belah pihak saling bernafsu untuk memerangi dan membunuh pihak lainnya. Lihat saja “Konflik Berdarah” di Iraq dan Syria saat ini, yang telah menjadi “Tragedi Kemanusiaan” yang sangat memilukan dan menyayat hati muslim mana pun yang menyintai “Wihdah Islaamiyyah”.

Bagi Roofidhoh bahwa Nawaashib lebih berbahaya daripada Yahudi maupun Nashrani. Dan bagi Nawaashib justru Roofidhoh lah yang lebih berbahaya daripada Yahudi dan Nashrani. Baik Roofidhoh maupun Nawaashib sama-sama anti Dialog dan Anti Toleransi Antar Madzhab Islam. Mereka selalu menolak bahkan merusak semua upaya pemersatuan umat Islam sepanjang zaman.

Mereka lebih suka perang sesama muslim daripada perang melawan Zionis dan Salibis Internasional. Mereka lebih suka membunuh sesama muslim daripada memerdekakan Palestina dan Masjid Al-Aqsha dari cengkeraman Israel. Innaa Lillaahi wa Innaa ilaihi Rooji’uun …

SYIAH dan ROOFIDHOH

Memang tidak semua Syiah adalah Roofidhoh, namun tidak bisa diingkari bahwa kebanyakan Syi’ah bersikap Roofidhoh. Harus kita akui bahwa di kalangan Ulama Syiah tidak sedikit yang berupaya mencegah dan melarang penghinaan terhadap para Shahabat Nabi SAW untuk menjaga dan membangun Ukhuwwah Islamiyyah, namun upaya para Ulama Reformis Syiah tersebut tenggelam dalam fanatisme Awam Syiah yang cenderung bersikap Roofidhoh.

Fanatisme Awam Syiah tersebut bukan tanpa sebab, justru lahir dan menguat akibat aneka kitab Syi’ah dan berbagai pernyataan Ulama mereka sendiri yang menghina Shahabat Nabi SAW sekaliber Sayyiduna Abu Bakar RA dan Sayyiduna Umar RA. Bahkan isteri Nabi SAW seperti Sayyidah Aisyah RA dan Sayyidah Hafshoh RA pun tak luput dari penghinaan mereka.

Salah satunya, lihat saja kitab “Al-Anwaar An-Nu’maaniyyah” karya Syeikh Ni’matullaah Al-Jazaa-iriy yang isinya dipenuhi dengan hinaan terhadap para Shahabat Nabi SAW. Bahkan dia mengkafirkan Nawaashib, dan menuduh semua Aswaja yang tidak mengutamakan Sayyiduna Ali RA di atas semua Shahabat sebagai Nawaashib yang Kafir.

Dalam kitab tersebut juz 2 halaman 307 disebutkan:

إنهم كفار أنجاس بإجماع علماء الشيعة الإمامية ، وإنهم شر من اليهود والنصارى ، وإن من علامات الناصبي تقديم غير علي عليه في الإمامة .”

“Sesungguhnya mereka (-Nawaashib-) adalah Kafir dan Najis dengan Ijma’ Ulama Syiah Imamiyyah. Dan sesungguhnya mereka lebih jahat daripada Yahudi dan Nashrani. Dan sesungguhnya daripada tanda-tanda seorang Naashibah adalah mendahulukan selain Ali di atasnya dalam Imamah.”

Di Indonesia, sejumlah Tokoh Syiah secara terang-terangan menghina para Shahabat dan Isteri Nabi SAW, seperti:

Jalaluddin Rahmat dalam buku “Shahabat dalam Timbangan Al-Qur’an, Sunnah dan Ilmu Pengetahuan” hal. 7, dan catatan kaki buku “Meraih Cinta Ilahi” hal. 404 – 405 dan 493, serta buku “Manusia Pilihan yang Disucikan” hal. 164 – 166.Emilia Renita AZ dalam buku “40 Masalah Syiah” hal.83.Haidar Barong dalam buku “Umar dalam Perbincangan” dihampir semua bab.

Selain itu, masih ada lagi IJABI (Ikatan Jama’ah Ahlul Bait Indonesia) yang dinakhodai oleh Jalaluddin Rahmat cs yang sering melecehkan Shahabat Nabi SAW dalam aneka seminar dan pertemuan. Bahkan sering melecehkan Islam dengan membela aneka Aliran Sesat seperti Ahmadiyah, sehingga patut disebut sebagai “Syiah Liberal”.

Syiah Roofidhoh memang secara demonstratif dan konfrontatif serta provokatif menunjukkan kebenciannya kepada Shahabat Nabi SAW, khususnya Sayyiduna Abu Bakar RA dan Sayyiduna Umar RA, beserta kedua putri mereka yaitu Sayyidah Aisyah RA dan Sayyidah Hafshoh RA.

Saking bencinya kepada Sayyiduna Abu Bakar RA dan Sayyiduna Umar RA, kalangan Roofidhoh membuat “Doa Dua Berhala” yang isinya melaknat habis kedua Shahabat Mulia Nabi SAW tersebut. Bahkan mereka haramkan siapa pun dari kalangan mereka diberi nama Abu Bakar atau Umar, atau nama putri keduanya yaitu Aisyah atau Hafshoh.

Karenanya, Aswaja sepakat sejak dulu hingga kini, bahwasanya “Syiah Roofidhoh” adalah firqoh yang sesat menyesatkan. Apalagi “Syiah Ghulat” yang menabikan atau menuhankan Sayyiduna Ali RA, dan menganggap para Imam mereka sebagai Utusan atau Titisan Tuhan, serta memvonis Al-Qur’an kurang dan tidak asli lagi, maka Aswaja sepakat bahwa Syiah Ghulat adalah Kafir dan Murtad, bukan lagi termasuk Islam.

Ada pun “Syiah Moderat” yang berjiwa Reformis, mereka bukan Ghulat dan bukan Roofidhoh. Mereka adalah saudara muslim yang harus dihormati bukan dicaci, dirangkul bukan dipukul, diajak dialog bukan ditonjok, dilawan dengan dalil bukan dengan bedil.

RIWAYAT HADITS SYIAH

Jadi, jangan ada sikap gebrah uyah dengan “penggeneralisiran” semua Syiah pasti Ghulat dan pasti Roofidhoh, sehingga semuanya pasti Kafir dan Murtad atau Sesat. Sikap seperti itu sangat gegabah dan amat tidak ilmiah, serta bukan sikap Aswaja.

Selain itu, dalam Shahih Bukhari dan Shahih Muslim serta Kitab Hadits Aswaja lainnya terdapat “Perawi Syiah”, tapi bukan dari kalangan Ghulat yang Kafir, sehingga jika “mereka” dikafirkan juga, maka berarti ada “Perawi Kafir” dalam Shahih Bukhari dan Shahih Muslim serta Kitab Hadits Aswaja lainnya.

Itu sangat berbahaya, karena bisa menjadi “Bumerang” yang menyerang balik dan menghancurkan Aswaja . Itu tidak dilakukan kecuali oleh mereka yang bodoh tentang Ilmu “Jarh wat Ta’diil” atau oleh “penyusup” yang pura-pura jadi Aswaja, padahal tujuannya merusak Aswaja.

Justru adanya riwayat Syiah dalam Kitab Hadits Aswaja, menunjukkan bahwa Aswaja dalam periwayatan Hadits memiliki Metode yang netral, adil, jujur dan amanat, serta jauh dari sikap Fanatisme Madzhab.

Silahkan buka pernyataan Imam Adz-Dzahabi rhm tentang “Riwayat Syi’ah” dalam kitab “Mizaanul I’tidaal” juz 1 hal.29 No.2 pada ulasan “Perawi Syiah” bernama “Abaan bin Taghlib” , dan juz 1 hal.53 No.86 pada ulasan “Perawi Syiah” yang bermama “Ibrahim bin Al-Hakam”.

Semua pernyataan Imam Adz-Dzahabi rhm tentang “Riwayat Syiah” dinukilkan juga oleh Imam Ibnu Hajar Al-‘Asqolaani rhm dalam kitab “Lisaanul Miizaan” juz 1 hal.103 -104. Atau cari dan baca saja langsung dalam kitab-kitab Dirooyaat Hadits, nama-nama seperti: Ibrahim bin Yazid, Salim bin Abil Ja’di, Al-Hakam bin ‘Utaibah, Salamah bin Kuhail, Zubaid bin Al-Harits, Sulaiman bin Mihran, Ismail bin Zakaria, Khalid bin Makhlad, Sulaiman bin Thorkhon dan Sulaiman bin Qorom. Mereka semua adalah Syiah, tapi ditsiqohkan dan diterima riwayatnya oleh Ahli Hadits Aswaja.

Inilah bukti bahwa Aswaja adalah Madzhab Islam yang Muhaayid (Netral) dan I’tidaal (Adil), serta Tawassuth (Pertengahan) dan Tawaazun (Seimbang), juga Tasaamuh (Toleran).

WAHABI dan NAASHIBAH

Memang tidak semua Wahabi adalah Naashibah, namun tidak bisa diingkari bahwa kebanyakan Wahabi bersikap Naashibah. Memang di kalangan Ulama Wahabi tidak sedikit yang berupaya mencegah dan melarang penghinaan terhadap para Ahli Bait Nabi SAW dalam bentuk apa pun, untuk menjaga dan membangun Ukhuwwah Islamiyyah, namun upaya para Ulama Reformis Wahabi tersebut juga tenggelam dalam fanatisme Awam Wahabi yang cenderung bersikap Naashibah.

Fanatisme Awam Wahabi tersebut bukan tanpa sebab, justru lahir dan menguat akibat aneka kitab Wahabi dan berbagai pernyataan Ulama panutan mereka sendiri yang menghina Ahli Bait Nabi SAW sekaliber Sayyiduna Ali RA dan isterinya Sayyidah Fathimah RA serta kedua putranya Sayyiduna Al-Hasan RA dan Sayyiduna Al-Husein RA.

Salah satunya, lihat saja kitab “Minhaajus Sunnah” karya Syeikh Ibnu Taimiyyah sang panutan dan rujukan kalangan Wahabi, yang isinya dipenuhi dengan penghinaan terhadap Ahli Bait Nabi SAW.

Dalam kitab tersebut, Ibnu Taimiyyah menyatakan bahwa imannya Sayyidah Khadijah RA tidak manfaat buat umat Islam. Dan bahwa Sayyidah Fathimah RA tercela seperti orang munafiq. Serta Sayyidina Ali RA seorang yang sial dan selalu gagal, serta berperang hanya untuk dunia dan jabatan bukan untuk agama, dan juga perannya untuk Islam tidak seberapa.

Ada pun Sayyiduna Al-Hasan RA dan Sayyiduna Al-Husein RA tidak zuhud dan tidak berilmu, serta tidak ada keistimewaannya. Lalu soal pembunuhan Sayyiduna Al-Husein RA hanya masalah kecil, lagi pula dia salah karena melawan Khalifah Yazid yang benar. Dan lain sebagainya. Oleh sebab itu, Imam Ibnu Hajar Al-‘Asqolaani rhm dalam kitab “Ad-Durorul Kaaminah” juz 1 hal.181 – 182 saat mengulas tentang Ibnu Taimiyyah menyatakan:

“ومنهم من ينسبه إلى النفاق لقوله في علي ما تقدم .”

“Dan di antara mereka (-para Ulama-) ada yang menisbahkannya (-Ibnu Taimiyyah-) kepada Nifaq, karena ucapannya tentang Ali sebagaimana telah disebutkan.”Dan dalam kitab “Lisaanul Miizaan”, Sang Begawan Hadits ini menyimpulkan:

“كم من مبالغة لتوهين كلام الرافضي أدته أحيانا إلى تنقيص علي .”

“Berapa banyak sikap berlebihan (Ibnu Taimiyyah) dalam merendahkan perkataan Roofidhoh terkadang mengantarkannya kepada pelecehan Ali.”

Sikap berlebihan Ibnu Taimiyyah pada akhirnya mengantarkannya ke penjara pada tahun 726 H hingga wafat di tahun 728 H. Sultan Muhammad bin Qolaawuun memenjarakannya di salah satu menara Benteng Damascus di Syria berdasarkan Fatwa Qodhi Empat Madzhab Aswaja, yaitu:

Mufti Hanafi Qodhi Muhammad bin Hariri Al-Anshori rhm.Mufti Maliki Qodhi Muhammad bin Abi Bakar rhm.Mufti Syafi’i Qodhi Muhammad bin Ibrahim rhm.Mufti Hanbali Qodhi Ahmad bin Umar Al-Maqdisi rhm.

Bahkan Syeikhul Islam Imam Taqiyuddin As-Subki rhm dalam kitab “Fataawaa As-Subki” juz 2 halaman 210 menegaskan :

“وحبس بإحماع العلماء وولاة الأمور”.

“Dia (Ibnu Taimiyyah) dipenjara dengan Ijma’ Ulama dan Umara.”

Namun, akhirnya Syeikh Ibnu Taimiyyah rhm bertaubat di akhir umurnya dari sikap berlebihan, khususnya sikap “Takfiir”, sebagaimana diceritakan oleh Imam Adz-Dzahabi rhm dalam kitab “Siyar A’laamin Nubalaa” juz 11 Nomor 2.898 pada pembahasan tentang Imam Abul Hasan Al-Asy’ari rhm.

Namun, sayangnya Wahabi saat ini banyak yang tetap berpegang kepada sikap berlebihan Ibnu Taimiyah yang justru sebenarnya sudah diinsyafinya. Bahkan banyak kalangan Wahabi saat ini yang bersikap “Khawaarij” yang cenderung “Takfiirii” yaitu suka mengkafirkan semua umat Islam yang tidak sependapat dengan mereka.

Di Indonesia, sejumlah Tokoh Wahabi secara terang-terangan menyatakan bahwa Madzhab Asy’ari adalah bukan Aswaja, bahkan Firqoh sesat menyesatkan, antara lain:

Yazid Abdul Qadir Jawaz dalam buku “Mulia dengan Manhaj Salaf” bab 13 hal. 519 – 521.Abdul Hakim bin Amir Abdat dalam buku “Risalah Bid’ah” bab 19 hal. 295 dan buku “Lau Kaana Khairan lasabaquunaa ilaihi” bab 6 hal. 69.Hartono Ahmad Jaiz dalam buku “Bila Kyai Dipertuhankan” hal.165 – 166.

Selain mereka, masih ada Mahrus Ali yang mengaku sebagai Mantan Kyai NU melalui lebih dari sepuluh buku karangannya secara eksplisit menyesatkan aneka amaliyah NU yang bermadzhab Asy’ari Syafi’i.

Karenanya, Aswaja pun sepakat sejak dulu hingga kini, bahwasanya Khawaarij maupun Naashibah adalah firqoh yang sesat menyesatkan. Jadi, Wahabi yang berpaham Khawaarij dan bersikap Nawaashib juga merupakan firqoh yang sesat menyesatkan.

Ada pun “Wahabi Moderat” yang berjiwa Reformis, mereka bukan Khawaarij Takfiirii dan bukan juga Nawaashib. Mereka adalah saudara muslim yang wajib dihormati bukan dicaci, dirangkul bukan dipukul, diajak dialog bukan ditonjok, dilawan dengan dalil bukan dengan bedil.

Apalagi mereka masih berpegang kepada sumber hadits yang sama dengan Aswaja, seperti Muwaththo’ Malik dan Musnad Ahmad serta Kutubus Sittah, yaitu: Shahih Bukhari, Shahih Muslim, Jami’ At-Tirmidzi, Sunan An-Nasaa-i, Sunan Abi Daud dan Sunan Ibni Maajah, dan kitab-kitab Hadits Aswaja lainnya.

RIWAYAT NAWAASHIB

Jadi, jangan ada sikap gebrah uyah dengan “penggeneralisiran” semua Wahabi pasti Khawaarij Takfiirii atau pasti Nawaashib, sehingga semuanya pasti sesat menyesatkan, apalagi sampai mengkafirkan mereka. Sikap seperti itu sangat gegabah dan amat tidak ilmiah, serta bukan sikap Aswaja.

Selain itu, dalam Shahih Bukhari dan Shahih Muslim serta Kitab Hadits Aswaja lainnya terdapat “Perawi Khawaarij” dan “Perawi Nawaashib”, sehingga jika “mereka” dikafirkan, maka berarti ada “Perawi Kafir” dalam Shahih Bukhari dan Shahih Muslim serta Kitab Hadits Aswaja lainnya.

Itu juga sangat berbahaya, karena juga bisa menjadi “Bumerang” yang menyerang balik dan menghancurkan Aswaja. Itu tidak dilakukan kecuali oleh mereka yang bodoh tentang Ilmu “Jarh wat Ta’diil” atau oleh “penyusup” yang pura-pura jadi Aswaja, padahal tujuannya merusak Aswaja.

Justru adanya riwayat Khawaarij dan Nawaashib dalam Kitab Hadits Aswaja, menunjukkan bahwa Aswaja dalam periwayatan Hadits memiliki Metode yang netral, adil, jujur dan amanat, serta jauh jauh dari sikap Fanatisme Madzhab.

Silakan baca kitab “Al-‘Itab Al-Jamiil ‘alaa Ahlil Jarhi wat Ta’diil” karya As-Sayyid Muhammad bin Aqil bin Yahya dengan tahqiq Sayyid Hasan bin Ali As-Saqqoof seorang Ahli Hadits dari Yordania dan ada juga dengan tahqiq DR.Alwi bin Hamid Syihab seorang Dosen Hadits di Universitas Hadromaut – Yaman.

Atau cari dan baca saja langsung dalam kitab-kitab Dirooyaat Hadits, nama-nama seperti: Umar bin Sa’ad, Zuhair bin Mu’awiyah, Ibrahim bin Ya’qub, Ishaq bin Suwaid, Tsaur bin Yazid, Hariiz bin Utsman, Hushoin bin Numair, Khalid bin Abdullah, Ziyad bin Jubair dan Ziyad bin ‘Alaaqoh. Mereka semua adalah Nawaashib para pembenci Ahli Bait Nabi SAW, tapi ditsiqohkan dan diterima riwayatnya oleh Ahli Hadits Aswaja.

Selain itu, masih ada “Perawi Khawaarij” dari berbagai sektenya seperti Ibaadhiyyah, Azaariqoh, Haruuriyyah dan Ash-Shufriyyah, antara lain: Jaabir bin Zaid, Juray bin Kulaib, Syabats bin Rib’i dan ‘Imraan bin Hiththoon. Dan ada juga “Perawi Murji-ah” yaitu Khalid bin Salamah dan “Perawi Qadariyyah” yaitu Tsaur bin Zaid. Mereka semua adalah Non-Aswaja, tapi ditsiqohkan dan diterima riwayatnya oleh Ahli Hadits Aswaja.

Inilah bukti bahwa Aswaja adalah Madzhab Islam yang Muhaayid (Netral) dan I’tidaal (Adill), serta Tawassuth (Pertengahan) dan Tawaazun (Seimbang), juga Tasaamuh (Toleran).

SYAIR IMAM SYAFI’I

Imam Syafi’i RA dalam “Diiwaan” nya pada halaman 20, menyusun beberapa Bait Syair untuk menyindir Roofidhoh yang selalu menuduh para pecinta Sayyiduna Abu Bakar RA sebagai Nawaashib, dan sekaligus juga menyindir Nawaashib yang selalu menuduh para pecinta Ahli Bait Nabi SAW sebagai Syiah Roofidhoh.

Berikut syairnya :

إذا نحن فضلنا عليا فإننا
روافض بالتفضيل عند ذي الجهل
وفضل أبي بكر إذا ما ذكرته
رميت بنصب عند ذكري للفضل
فلا زلت ذا رفض ونصب كلاهما
بحبيهما حتى أوسّد بالرمل

Jika kami memuliakan Ali maka sesungguhnya kami ..
Menurut orang bodoh adalah Rowaafidh lantaran memuliakannya.
Dan jika aku menyebut keutamaan Abu Bakar …
Maka aku dituduh Naashibah lantaran memuliakannya.
Maka aku akan tetap selalu menjadi Roofidhoh dan Naashibah sekaligus …
Dengan menyintai keduanya hingga aku berbantalkan pasir (mati).

ASWAJA

Ahlus Sunnah wal Jama’ah yang disingkat “Aswaja” adalah bukan Syiah dan bukan juga Wahabi, serta bukan Roofidhoh dan bukan juga Nawaashib.

Imam Ibnu Hajar Al-Haitami rhm (w : 973 H) dalam kitab “Az-Zawaajir ‘an Iqtiroofil Kabaa-ir” halaman 82 mendefinisikan Aswaja sebagai berikut:

“المراد بالسنة ما عليه إماما أهل السنة والجماعة الشيخ أبو الحسن الأشعري و أبو منصور الماتريدي .”

“Yang dimaksud dengan Ahlus Sunnah adalah yang dianut oleh dua Imam Ahlus Sunnah wal Jamaa’ah yaitu Syeikh Abul Hasan Al-Asy’ari san Abu Manshur Al-Maaturiidii.”

Dan Imam Al-Murtadho Az-Zabiidii rhm (wafat : 1.205 H) dalam kitab “Ittihaafus Saadah Al-Muttaqiin” juz 2 hal. 6 menyatakan:

“إذا أطلق أهل السنة والجماعة فالمراد بهم الأشاعرة والماتريدية .”

“Jika disebut Ahlus Sunnah wal Jama’ah secara mutlaq, maka yang dimaksud adalah Kaum Asy’ari dan Kaum Maaturiidii.”

Hampir semua Ulama dan Fuqoha Madzhab Fiqih Hanafi mengikuti Madzhab Aqidah Maaturiidi, karena Imam Abu Manshur Al-Maaturiidii rhm menghimpun ajaran Aqidah Imam Abu Hanifah rhm dalam Madzhab Aqidah Maaturiidiyyah yang dibangunnya.

Dan hampir semua Ulama dan Fuqoha Madzhab Fiqih Maliki dan Syafi’i, serta sebagian Ulama dan Fuqoha Madzhab Fiqih Hanbali mengikuti Madzhab Aqidah Asy’ari, karena Imam Abul Hasan Al-Asy’ari rhm menghimpun ajaran Aqidah Imam Malik, Syafi’i dan Ahmad, rohimahumullaah, dalam Madzhab Aqidah Asy’ariyyah yang dibangunnya.

Sebagian Ulama Hanbali mengklaim sebagai pengikut Madzhab Aqidah Ahli Hadits dan Atsar yang “dinisbahkan” kepada Imam Ahmad rhm. Mereka mengklaim sebagai Aswaja yang paling asli dan sejati. Kini, pengikut aliran ini banyak mendapat “label” sesuai aneka sebab kaitannya, antara lain :

Atsari: Karena mengklaim sebagai pengikut Ahli Atsar.Salafi: Karena mengklaim sebagai Madzhab paling Salaf.Wahabi: Karena menjadikan Pemikiran Tauhid Syeikh Muhammad b Abdul Wahhab sebagai rujukan utama.Khawaarij: Karena sering menyalahkan semua umat Islam yang tidak sejalan dengan mereka.Takfiirii : Karena sering mengkafirkan semua umat Islam yang tidak sependapat dengan mereka.Nawaashib: Karena sering merendahkan Ahli Bait Nabi SAW dengan “dalih” bela Shahabat Nabi SAW, bahkan paling suka berteriak mengkafirkan dan memusyrikkan Ibu dan Ayah Nabi SAW.Musyabbih: Karena dalam mentafsirkan Sifat Allah SWT menyerupakan-Nya dengan Makhluq.Mujassim: Karena dalam mentafsirkan Sifat Allah SWT menjasmanikan Dzat Allah SWT dalam bentuk jasad Makhluq.

KESIMPULAN

Syiah dan Wahabi bukan “Agama”, tapi “Firqoh”, sehingga tidak tepat istilah “Agama Syiah” dan “Agama Wahabi”, bahkan istilah tersebut terlalu “Lebay”.

“Syiah Roofidhoh” dan “Wahabi Nawaashib” adalah Firqoh sesat menyesatkam yang sangat berbahaya, sehingga wajib diwaspadai oleh segenap Aswaja, dan harus dibendung penyebarannya, serta mesti dilawan penistaannya terhadap Ahlul Bait mau pun Shahabat Nabi SAW.

Sedang “Syiah Moderat” dan “Wahabi Moderat” yang berjiwa Reformis, mereka adalah saudara muslim yang wajib dihormati bukan dicaci, dirangkul bukan dipukul, diajak dialog bukan ditonjok, dilawan dengan dalil bukan dengan bedil.

Ada pun Aswaja adalah Madzhab Pecinta Ahlul Bait dan Shahabat Nabi SAW serta Para Salaf yang Sholihin. Dan Aswaja adalah Madzhab yang selalu terbuka untuk Peradaban Dialog yang berbasis Ilmu dan Akhlaq, dalam membangun Toleransi Antar Umat Islam dari berbagai Madzhab mau pun Firqoh.

Aswaja adalah Madzhab Islam yang Muhaayid (Netral) dan I’tidaal (Adil), serta Tawassuth (Pertengahan) dan Tawaazun (Seimbang), juga Tasaamuh (Toleran). Alhamdulillaah, Aswaja adalah “Firqoh Naajiyah” yang berjalan di atas jalan Rasulullah SAW dan Ahlil Baitnya serta Para Shahabatnya

Alhamdulillaahi Robbil ‘Aalamiin